Zikir

CapturefSebagai seorang muslim hendaknya kita menjadikan Zikrullah sebagai wirid dengan waktu dan jumlah yang telah ditentukan. Dan tak ada salahnya kita gunakan tasbih untuk menentukan jumlahnya. Allah SWT berfirman,

يأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا

“wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan berzikir yang banyak.” (QS> Al-Ahzab:41)

Rasulullah SAW juga bersabda,

يقول الله تعالى أنا عند ظن عبدي وأنا معه حين يذكرني فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي وإن ذكرني في ملإ ذكرته في ملإ خير منه

“Allah ta’ala berfirman, Aku adalah menurut prasangka hamba-Ku, dan rahmat Ku menyertainya ketika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam sendirian, Aku mengingatnya dalam Zat-Ku. Dan apabila ia mengingatku secara kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik.” (HR. Baihaqi dari Abi Hurairah)

Zikir mengandung beberapa nilai kemanfaatan yang tinggi, dari buah dan saripatinya, hanya orang yang istiqomah, beradab dan menghadirkan hatinya dalam berzikir yang akan merasakan manis dan lezatnya zikir. Tingkat paling rendah orang yang merasakan manisnya zikir adalah apabila ia sudah mampu berpaling dari kelezatan dunia, sedangkan tingkat tertinggi yang ia capai ialah menemukan kefanaan pada dirinya sendiri dan segala sesuatu selain Allah SWT.

Barangsiapa yang duduk di tempat sunyi dalam keadaan suci menghadap kiblat, khusyuk anggotanya dengan kepala tertunduk, lalu berzikir dengan menghadrikan hati, maka ia akan merasakan pengaruh ziki itu dalam dirinya, bersinarnya cahaya pendekatan diri kepada Allah dan terbukanya rahasia gaib.

Zikir yang paling baik ialah dengan menghadirkan makna zikir di dalam hati, mislanya dengan menghayati kesucian Allah ketika membaca Subhanallah, dan ke-Esa-an-Nya ketika melafalkan la ilaha illallah.

Hendaklah lisan kita selalu basah dengan berzikir dalam situasi dan kondisi apapun, kecuali dalam keadaan bertafakkur dan membaca Al-Quran karena kita tak akan mampu berzikir dan melakukan amalan-amalan tersebut secara bersamaan. Dismaping itu, janganlah kita hanya menggunakan satu zikir saja, dan sebaiknya kita gunakan beraneka ragam zikir yang lain agar bisa merasakan bermacam-macam fadhilah dari zikir yang telah kita lakukan.

Belajar Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu-Yang-Bermanfaat-Ilmu-Agama-atau-Umum

Amalan sunnah yang bisa dijadikan wirid tidak hanya amalan-amalan yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya saja. Seperti sholat Witir, sholat Tahajjud, sholat Dhuha, sholat Awabin dan membaca Al-Quran. Amalan wajib pun juga bisa dijadikan wirid, seperti mempelajari ilmu. Belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslimin dan muslimat. Karena dengan mempelajari ilmu, kita akan mengetahui Zat Allah, sifat-Nya, tindakan-Nya dan nikmat-Nya, mengetahui tata cara untuk taat kepada-Nya, mencegah segala maksiat, menuntut pada sifat zuhud terhadap kemewahan dan selalu cinta akhirat, mengetahui aib dan bahaya yang ditimbulkan oleh pekerjaan kita serta mengerti tipu daya musuh kita.

Ilmu yang dipelajari akan bermanfaat apabila kita belajar kepada orang yang benar, ilmu yang benar dan dengan cara yang benar. Saat ini banyak orang yang mempelajari ilmu dari internet, bertanya kepada Syekh Google, kemudian berfatwa tentang suatu masalah tanpa memperhatikan sumber yang dia dapat dan dari siapa sumber itu diajarkan. Memang tidak semua yang ada di internet itu salah, tapi hal yang benar/positif di internet itu lebih sedikit daripada hal yang salah/negatif. Maka dari itu, sebaiknya mempelajari langsung dari orang yang terpercaya, seperti belajar ke pondok pesantren yang mengkaji kitab-kitab ulama salaf. Diantara kitab-kitab yang membawa kebermanfaatan dan kemaslahatan di dunia dan akhirat adalah kitab-kitab karangan Imam Al-Ghazali. Kitab yang beliau susun mempunyai nilaikeistimewaan yang khas, baik dalam keutuhan dan dorongan yang mampu menggugah hati. Berbeda sekali dengan kitab-kitab tasawuf lainnya, kitab karangan beliau ini mampu memberi pengaruh dalam waktu yang singkat.

Namun dalam mempelajari ilmu hendaknya harus berimbang antara ilmu yang akan digunakan untuk masalah dunia dan ilmu yang digunakan untuk menjalankan agama. Jika banyak orang yang mengatakan bahwa ilmu dunia itu tidak penting karena tidak akan ditanyai dalam kubur, maka orang itu salah. Karena sejatinya tidak ada perbedaan antara ilmu dunia dan ilmu agama. Keduanya merupakan ilmu yang diturnkan Allah, ilmu yang dimiliki Allah, maka untuk apa Allah menurunkan ilmu yang digunakan untuk kehidupan dunia jika tidak untuk kebermanfaatan manusia sendiri. Maka dalam pembagian prioritas minimal adalah 50% ilmu tentang urusan dunia dan 50% ilmu tentang agama, dan lebih baiknya apabila memprioritaskan untuk ilmu tentang agama dengan menambah jumlah prosentasenya. Jangan sampai kita lebih mementingkan ilmu tentang dunia, karena ilmu tentang dunia jika tidak ditunjang dengan pengetahuan agama maka akan membuat kita tersesat dari jalan kebenaran dan semakin jauh dari-Nya.

Amalan Sunnah (3)

Amalan sunnah lainnya yang sering dilakukan oleh ulama salaf adalah membaca Al-Quran. Karena membaca Al-Quran ini adalah ibadah yang paling utama. Selain itu, setiap membaca satu huruf dari Al-Quran maka Allah akan memberikan 10 kebaikan seperti sabda Rasulullah SAW. Membaca Al-Quran tidak harus mengerti dan paham maksudnya, namun alangkah lebih baik jika bisa memahami isi dan kandungan dari Al-Quran. Karena dengan begitu kita bisa men-tadabburinya, sehingga bisa mendapatkan pelajaran dan pencerahan dari apa yang sudah dibaca untuk diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, hendaknya setiap muslim atau muslimah menjadikan Al-Quran sebagai wiridnya dan beristiqomah dalam membacanya tiap siang dan malam. Sedikitnya satu juz setiap hari sehingga mampu mengkhatamkannya dalam sebulan. Dan lebih baik lagi jika mampu mengkhatamkan dalam waktu tiga hari. Namun jika tidak bisa mengkhatamkan dalam tiga hari dan sebulan maka setidaknya setiap hari membaca Al-Quran walaupun satu ayat, namun istiqomah dalam membacanya.

Al-Quran merupakan pokok pedoman bagi umat manusia. Segala sumber keilmuan dan semua yang ada di dunia ini telah dijelaskan di Al-Quran. Kitab ini merupakan kitab yang sempurna dan fleksibel untuk digunakan di zaman kapanpun. Al-Quran bagaikan lautan yang sangat luas. Ia mampu mengeluarkan mutiara ilmu dan beberapa pengertian berharga, bahkan dengan bacaan AL-Quran lah seseorang dapat terbuka kepahamannya sehingga mampu memahami sesuatu dan lebih sempurna nurnya serta bertambah luas ilmunya. Dan tak ada rasa jemu dan bosan, itulah sifat sejati orang yang cinta pada akhirat. Syekh Abu Madyan ra. Berkata:

“seseorang tidak dikatakan murid sejati sebelum ia memperoleh segala yang ia inginkan dengan perantaraan Al-Quran.”

Adapu surat atau ayat yang sering dibaca karena memiliki fadhilah tersendiri sesuai dengan hadits Nabi SAW diantaranya ialah:

  • Membaca surat Alif Lam Mim As-Sajadah, Al-Waqiah, Al-Mulk dan dua ayat akhir dari surat Al-Baqoroh setiap malam.
  • Surat Ad-Dukhan setiap malam Senin dan Jumat.
  • Surat AL-Kahfi setiap malam Jumat dan pada hari Jumat.
  • Membaca ayatul munjiat as-sab’I (tujuh ayat keselamatan) setiap malam, yaitu: At-Taubah: 51, Yunus: 107, Hud: 6, Hud:56, Al-Ankabut: 60, Fatir: 2 dan Az-Zumar: 38.
  • Membaca permulaan surat Al-Hadid, penutup Al-Hasyr, Al-Ikhlas 3 kali, Al-Falaq dan An-Nas 3 kali.
  • Membaca surat al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Ayat kursi  dan Al-Kafirun sebelum tidur.

Sebenarnya masih banyak sekali fadhilah-fadhilah yang terkandung dalam beberapa surat di Al-Quran, dan semuanya memiliki fadhilah yang berbeda dan sangat baik. Maka dari itu, seyogyanya untuk mengistiqomahkan untuk membaca Al-Quran setiap hari meskipun satu ayat.

Amalan Sunnah (2)

Dalam artikel sebelumnya telah dibahas mengenai amalan sunnah yang sering dilaksanakan oleh ulama salaf, yaitu sholat Dhuha dan sholat Witir. Selanjutnya akan dijelaskan amalan sunnah lainnya yang juga sering dilakukan oleh ulama-ulama salaf. Pertama sholat Awabin, ialah sholat yang dikerjakan antara waktu Maghrib dan Isya. Dikerjakan maksimal 20 rakaat dan biasanya dilakukan 6 rakaat. Rasulullah SAW bersabda,

من صلى بين العشائين ركعتين بني الله له بيتا في الجنة

“Barangsiapa shalat (sunnah) diantara Maghrib dan Isya 2 rakaat, maka Allah mendirikan rumah (untuknya) di surga.”

Banyak sekali hadits yang menerangkan keutamaan menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya. Dalam hal ini, Ahmad bin Abi Al-Hawariy bertanya pada gurunya, Syekh Abu Sulaiman ra, “wahai guru, mana yang lebih utama, puasa di siang hari atau menghidupkan waktu antara Maghri dan Isya dengan amal soleh?”

“Kerjakan kedua-duanya,: jawab gurunya.

“Tetapi saya tak mampu mengerjakan keduanya. Karena jika saya berpuasa, waktu antara Maghrib dan Isya adalah saat sibuk untuk berbuka.”

“Kalau demikian tinggalkan puasa dan isilah waktu antara Magrib dan Isya untuk beramal soleh.”

Rasulullah SAW pun selalu mengerjakan sholat sunnah antara Maghrib dan Isya ini, adapun jumahnya adalah empat atau enam rakaat sesuai dengan keterangan dari Ummul Mu’minin, Sayyidah Aisyah ra.

Amalan sunnah lainnya adalah sholat malam atau disebut sholat Tahajjud. Sholat ini dikerjakan sesudah bangun tidur di malam hari. Adapun jumlah rakaatnya ialah tidak terbatas, dan minimal adalah dua rakaat. Dalam Al-Quran dijelaskan,

ومن اليل فتهجد به نافلة لك

“Dan pada sebagian malam hari bersholat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS. Al-Isra’: 79)

Rasulullah SAW bersabda,

أفضل صلاة بعد المكتوبة صلاة الليل

“Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah sholat di malam hari.”

Banyak sekali manfaat dari sholat Tahajjud, dan banyak keutamaan-keutamaan yang dijelaskan di hadits mengenai sholat ini. Pada waktu malam hari dimana sebagian besar orang sedang beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, maka doa-doa yang dipanjatkannya akan mudah dikabulkan dan dicukupi kebutuhannya oleh-Nya.