PENGAJIAN KITAB TANBIHUL GHOFILIN

Pengajian Ustadz Mahmud Musta’in

Tgl 25 November 2017

Kelak di hari kiamat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan seperti baru dilahirkan oleh ibunya yaitu dalam keadaan telanjang dan tanpa memakai alas kaki. Mereka dikumpulkan jadi satu antara laki-laki dan perempuan. Namun meskipun dalam keadaan seperti itu, mereka tidak ada yang berbuat keburukan satu sama lain karena para manusia akan diam menatap ke langit selama 40 tahun tanpa makan dan  minum. Kemudian keluarlah keringat dari masing-masing manusia tersebut ada yang setinggi lutut, setinggi pinggang, kemudian setinggi perut dan kemudian ada yang sampai tenggelam dalam keringatnya karena terlalu lamanya. Kemudian malaikat datang dan berdiri melingkari manusia-manusia tersebut. Kemudian Allah menyuruh malaikat agar memerintahkan para manusia tersebut untuk mengangkat kepala mereka sehingga keluar seorang nabi dari tempat yang mereka lihat. Setiap  orang yang memiliki suatu keburukan maka hal tersebut akan membuatnya susah di hari kiamat. Dan pada hari kiamat tidak ada dinar maupun dirham yang ada hanya amal-amal kebagusan. Dan di hari itu akan dikembalikan segala kejelekan sehingga berkuranglah amal kebagusannya. Dan tidak ada kesengsaraan yang akan melebihi kesengsaraan di hari itu. Tidak ada yang akan selamat kecuali orang yang di kehendaki oleh Allah.

Diriwatkan dalam suatu cerita bahwa dulu ada orang tua yang ketakutan tentang adanya yaumul hisam dan menggantungkan kepada anaknya dalam hari tersebut. Dan berucaplah bapak tersebut kepada anaknya, “bahwa sesungguhnya aku adalah bapakmu di dunia maka berikanlah sedikit kebagusan sebiji dzarroh karena itu akan menjadikan keselamatan bagiku“. Kemudian anaknya menjawab, “aku juga merasa merasa takut seperti halnya bapak dan aku tidak dapat membantu”. Setelah itu sang bapak pergi untuk menemui istrinya dan meminta hal yang sama. Dan sang istri pun menjawab hal yang sama dengan anaknya bahwa dirinya tidak bisa membantu sang bapak. Maka ketahuilah bahwasanya kita tidak bisa tolong-menolong ketika kita sudah sampai di akhirat. Kita hanya bisa membantu saat di dunia namun kita bisa menolongnya dengan membebaskan segala hal yang menjadi tanggungan orang tersebut. Meskipun itu memiliki hubungan keluarga kita tetap tidak bisa menanggung dosa dari keluarga yang lain. Salah satu yang bisa kita lakukan di akhirat adalah bersilaturrahmi dengan keluarga yang lain. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda sesungguhnya orang-orang kafir terbelenggu oleh keringatnya karena lamanya di neraka hingga pada suatu hari orang kafir tersebut meminta belas kasihan dari Allah. Dan di ceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad itu selalu berdoa meminta  keselamatan untuk umatnya dan di jabahi oleh Allah. Doa-doa tersebut  tersimpan dan akan menjadi syafaat untuk umat Nabi Muhammad di hari kiamat. Semua orang berebut untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad.

Di hari kiamat banyak sekali terdapat kesusahan dan di hari itu para manusia berbondong-bondong untuk mencari syafaat. Dan para manusia tersebut mendatangi Nabi Adam yaitu bapak dari seluruh umat. Mereka memohon untuk di berikan syafaat. Nabi Adam menjawab bahwa Beliau bukanlah orang yang berhak untuk memberikan syafaat karena Beliau pernah melakukan kesalahan sehingga dikeluarkan oleh Allah dari surga. Kemudian Nabi Adam menyarankan agar mereka mendatangi Nabi Nuh karena Nabi Nuh adalah utusan yang pertama.  Maka para manusia tersebut mendatangi Nabi Nuh untuk meminta syafaat darinya. Namun Nabi Nuh menjawab hal yang sama dengan Nabi Adam yakni Beliau bukanlah orang yang berhak memberikan syafaat karena Beliau merasa pernah melakukan kesalahan yang besar yaitu telah menenggelamkan seluruh manusia yang ada di bumi. Nabi Nuh kemudian menyarankan mereka untuk mendatangi Nabi Ibrahim karena Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Maka datanglah manusia-manusia tersebut kepada Nabi Ibrahim secara meminta syafaat darinya. Nabi Ibrahim juga merasa bahwa Beliau tidak berahak untuk memberikan syafaat. Nabi Ibrahim merasa pernah melakukan 3 kebohongan besar yaitu melihat bintang,  berbohong kepada raja Namrud dengan mengatakan bahwa patung yang besar telah merusak patung-patung yang kcil dan yang terakhir adalah Nabi Ibrahim berbohong kepada istrinya. Dan kemudian Nabi Ibrahim menyarankan untuk mendatangi Nabi Musa karena Nabi Musa adalah Nabi yang pernah diajak bicara Allah. Jawaban Nabi Musa pun sama yaitu merasa tidak berhak memberikan syafaat karena Beliau pernah pernah membunuh orang banyak tanpa hak. Nabi Musa menyarankan untuk mendatangi Nabi Isa karena Nabi Isa jadi kalamnya Allah. Dan Nabi Isa pun merasa tidak berhak untuk memberikan syafaat karena merasa bersalah sebab Nabi Isa dan ibunya dijadikan Tuhan oleh agama lain. Maka Nabi Isa pun menyarankan agar mereka mendatangi Nabi Muhammad karena Beliau adalah Nabi terakhir. Dan Mereka pun mendatangi Nabi Muhammad seraya meminta syafaat. Kemudian Nabi Muhammad menjawab bahwa Beliau mempunyai hak untuk memberikan syafaat atas izin dan ridho dari Allah. Dan Umatnya dan Muhammad berasal dari manusia yang paling awal hingga terakhir di yaumul hisab di hari kiamat.

PENGAJIAN KITAB RISALATUL MUAWWANAH

Pengajian Kitab Risalatul Muawwanah

Oleh: Ustadz Agus Zainal Arifin

Hendaklah kita apabila berbicara selalu berisikan tentang kalimat yang baik karena sesungguhnya sebuah kalimat yang haram untuk di ucapkan maka haram juga untuk didengarkan. Contohnya saja ketika kita berbohong itu haram maka haram juga bagi kita untuk mendengarkannya kecuali kita tidak sengaja mendengarnya maka hal tersebut tidak apa-apa. Dan kalau berbicara juga sebaiknya  berbicara dengan teratur(tartil) serta menjaga nada bicara(intonasi) karena banyak orang yang akan menjadi tidak paham ketika kita berbicara dengan tidak tartil dan tanpa mngatur nada bicara kita. Contohnya saja di Jepang, di sana banyak kata yang sama dalam hal pengucapannya namun berbeda artinya tergantung nada bicara kita saat mengucapkannya. Mengatur urutan kalimat yang kita ucapkan itu juga penting agar orang yang mendengarnya jelas. Memperhatikan ucapan orang yang berbicara juga termasuk hal yang penting meskipun apa yang di bicarakannya adalah hal yang tidak ingin kita dengar. Karena dengan menampakkan bahwa kita tidak mendengarkannya maka akan membuat orang yang berbicara itu sakit hati maka dari itu kita wajib mendengarkannya meskipun yang di bicarakannya itu kosong. Dan jangan memutus pembicaraannya walaupun kita mengetahui apa yang akan di sampaikannya. Namun kalau tidak sampai menyakitkan matinya maka itu tidak apa-apa. Karena terkadang banyak orang yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin dibicarakannya. Dalam hal ini kita boleh membantunya untuk menjelaskan apa yang diucapkannya yang berarti kita tidak termasuk dalam memutuskan pembicaraannya.  Dan kalau ada yang bertanya maka jawablah pertanyaan tersebut meskipun hal yang ditanyakan tersebut sudah pernah ditanyakan. Kecuali kalau itu pembicaraan yang berbahaya (yang dimurkai oleh Allah), salah satu cata memotong pembicaraan yang berbahaya tersebut adalah dengan mengallihkan pembicaraan agar yang kita potong pembicaraannya tidak merasa sakit hati. Dan juga berhati-hatilah jangan sampai masuk dalam pembicaraan orang lain(nimbrung) karena biasanya hal tersebut akan mengganggu orang yang sedang berbicara. Dan jangan kau nampakkan pada orang yang berbicara bahwa sesungguhnya apa yang dia bicarakan itu sudah kamu ketahui, namun tidak perlu sampai berbohong dan cukup dengan menghormatinya saja agar timbul rasa gembira di hatinya. Karena kalau yang demikian akan menyakiti hatinya dan kalau ada orang yang berbicara dengan pembicaraan yang tidak seperti itu ceritanya maka jangan memotongnya dengan berkata bukan seperti itu. Karena kita tidak boleh menyakiti hatinya meskipun dia salah, maka katakanlah bahwa seperti ini ceritanya. Terutama kalau hal yang dibicarakan itu berhubungan tentang hal agama maka kita harus membenarkannya dengan cara yang lembut. Dan kalau kau bicara dengan orang yang bodoh dalam artian orang yang tidak mau berfikir maka baik-baiklah supaya tidak sampai ada permusuhan dan tidak ada yang sakit hati.

Dan hati-hati jangan sampai kita melakukan hal yang tidak bermanfaat untuk kita dan juga janganlah sering sering bersumpah. Kalau terpaksa bersumpah maka hal yang disumpahkan itu adalah benar benar batul dan juga karena memang diperlukan contohnya saja ketika menjadi saksi. maka selain itu alangkah lebih baik kalau kita tidak bersumpah. Dan juga janganlah berbicara sesuatu yang bohong karena hal tresebut dapat membatalkan keimanan. Ketika kita melakukan suatu kebohongan akan membawa kita kepada sesuatu kebohongan yang lain.

PENGAJIAN KITAB RISALATUL MUAWWANAH

Pengajian Kitab Risalatul Muawwanah

Oleh : Ustadz Agus Zainal Arifin

Ketika akan memulai sesuatu hendaknya kita memulainya dengan bacaan basmalah. Mau apa saja usahakan pamitan kepada Allah yaitu dengan mengucapkan basmalah. Karena kalau kita mengatasnamakan Allah maka akan dibukakan jalan oleh Allah. Allah memberikan hidayah terhadap orang yang di kehendakinya. Kita usaha itu untuk menjadi perantara namun bukan menjadikan sebab hal tersebut akan terwujud karena sesungguhnya sesuatu tersebut itu bisa terwujud hanya atas izin Allah. Kalau kalian lupa untuk mengucapkan basmalah diawal perbuatan maka kalau sudah ingat bacaalah “bismillahi fi awwalihi wa akhirihi”. Dan usahakan agar tidak memulai sesuatu kebiasaan kecuali dengan niat yang baik. Karena suatu hal yang mubah apabila kita niatkan dengan niat yang baik maka akan bernilai ibadah untuk kita. Selain mendapat pahala hal tersebut juga dapat memberikan kita motivasi karena niatan kita adalah karena Allah dan juga agar kita tidak dijadikan sedih ketika gagal dan sombong jika berhasil. Contoh sederhana adalah ketia kita memakai baju kita niatkan untuk Allah untuk menutup aurat karena menutup aurat adalah perintah dari Allah. Usahakan memakai sesuatu  dari yang sebelah kanan dan saat ketika melepas mengakhirkan yang kanan. Dan mengangkat sarung dan baju sampai pertengahan tulang kering agar pakaian tersebut tidak melampaui mata kaki kecuali kalau perempuan maka tidak apa-apa. Dan juga usahakan agar panjang lengan tidak melewati ujung jari dan juga jangan sampai berlebihan. Dan juga kita tidak boleh memiliki baju yang melebihi kebutuhan kita serta harganya tidak berlebihan. Minimalnya sebuah pakaian adalah yang tidak sampai membuka aurat atau kalau membuka sedikit aurat itu hanya karena ada hajat. Dan kalau memang ada hajat untuk membukanya  maka kita harus mengucapkan “Bismillahilladi laa ilahaillahu” dan bacalah “alhamdulillahilladi kasani hada warzaqnihi min wa ghoirihi minni wala quwwatin” ketika hendak memakainya kembali. Kita berdo’a ketika memakai pakaian maupun membukanya seyogyanya adalah mengucapkan terima kasih karena telah diberi pakaian oleh Allah. Dan di antara kesunnahan berpakaian adalah dengan memakai sorban namun tidak disunnahkan untuk membesarkan dan melebarkanya. Jadi pakailah pakaian yang menutup aurat dan tidak berlebihan dalam memakainya serta mengutamakan niat hanya kepada Allah SWT.

Pengajian Kitab Risalatul Muawwanah

Kewajiban mengetahui hukum dari suatu perkara

 

Semua ilmu di dunia ini pada dasarnya adalah milik Allah, maka janganlah kalian mengkotak-kotakkan ilmu. Pada era saat ini sering sekali terdengar perkataan yaitu “buat apa belajar ilmu seperti itu toh itu tidak akan ditanyakan oleh para malaikat”. Ungkapan semacam itu seolah membuat ilmu tersebut terbagi menjadi dua yaitu ilmu agama(ilmu Allah) dan ilmu non agama. Padahal semua ilmu yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT. karena Allah lah yang menciptakan ilmu-ilmu tersebut.

Dalam menuntut ilmu seringkali kita menemui banyak masalah dan dan kesusahan. Saat menemui masalah tersebut maka bersyukurlah karena dengan dengan adanya masalah tersebut akan memperkuat pundakmu untuk masalah-masalah yang ditemui di masa depan yang akan datang. Belajarlah sebanyak-banyaknya karena semakin banyak belajar maka kita akan tahu prioritas dan dapat memilah mana yang akan kita lakukan terlebih dahulu. Dan juga perbanyaklah berperan di masyarakat untuk melatih softskill.

Pada zaman sekarang ini banyak masyarakat yang cenderung lari dari kewajiban, contohnya adalah seperti orang miskin yang tidak mau bersedekah dengan dalih tidak punya harta untuk di sedekahkan padahal sedekah bisa dilakukan dengan banyak cara salah satunya adalah dengan menyumbangkan tenaga untuk menolong sesama. Ketahuilah bahwa dalih adalah dalil untuk modus yang sering di gunakan masyarakat saat ini. Dan masyarakat saat ini juga punya masalah hubbuddunya yaitu sering mengorbankan kesehatan mereka di masa muda demi uang padahal hal tersebut bisa jadi boomerang untuk mereka ketika tua.

 

Wajib bagi kita untuk mengetahui bagaimana tata cara dalam melakukan sesuatu yang wajib. Misalnya saat kita telah mencapai baligh, maka kita wajib untuk mengetahui makna dari dua kalimat syahadat, kewajiban akan sholat lima waktu dan apa yang wajib dari sholat tersebut  seperti rukun dan hukumnya. Dan waib pula bagi kita untuk mengetahui wajibnya puasa, zakat, haji dan lain sebagainya yang wajib. Juga wajib bagi kita untuk mengetahui yang haram sebagaimana kita wajib mengetahui perkara yang wajib, contohnya adalah berzina, meminum khamr, dan mengambil harta orang lain tanpa restu orang tersebut, dan lain sebagainya. Akan tetapi  kita tidak diwajibkan untuk mengetahui tatacara melakukan puasa kecuali memasuki bulan ramadhan dan tatacara haji kecuali mampu untuk pergi haji. Demikian juga untuk zakat, kita tidak diwajibkan mengetahui tata caranya kecuali kita sampai pada nishab dan waktunya.

Semua yang diharamkan dan diwajibkan atas kita hampir semuanya telah kita ketahui bersama dan tidak ada yang disembunyikan terkait itu. Tetapi meskipun kita telah mengetahui  hukum, kita juga perlu untuk berinteraksi kepada para alim ulama. Dan meniru apa yang mereka amalkan dan menjauhi apa yang mereka tinggalkan. Namun pada zaman sekarang ini kita akan sulit untuk menemukan orang alim yang benar-benar melakukan suatu ibadah dengan ilmunya. Maka dari itu kita perlu memilah mana yang baik untuk diikuti dan yang tidak, bila perlu sekalian bertanya tentang hukum melakukan hal tersebut dalam Islam.

Sebenarnya untuk mempelajari itu semua(perkara fardhu dll) kita tidak harus membutuhkan waktu yang lama karena hal tersebut akan membuat kita susah. Dengan duduk bersama dan belajar langsung dengan ulama satu jam atau dua jam itu sudah cukup untuk mendapatkan ilmu tersebut. Sebagaimana pernah terjadi pada zaman dahulu, ketika ada seorang arab badui yang mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta di ajari tentang agama. Padahal pada saat itu Rasulullah sedang berkhutbah di atas mimbar. Coba  yang di datangi pada saat itu bukann Rasulullah pasti akan langsung marah terhadap orang tersebut. Namun dengan kelembutan dan akhlaknya yang mullia Beliau turun dari mimbar dan dengan sabar mengajari orang badui tersebut tentang apa-apa saja yang ingin ia ketahui. Setelah puas dengan jawaban dari Rasulullah badui tersebut pergi dan Rasulullah pun kembali naik ke mimbar untuk menyempurnakan khutbah yang sempat tertunda tadi.

Saat seseorang ingin selamat di dunia dan di akhirat maka wajib baginya mengerjakan sesuatu dan tidak melakukannya kecuali telah mengetahui hukum Allah tentang sesuatu tersebut. Hukum-hukum tersebut yaitu wajib, sunnah, mubah atau haram. Dan secara umum orang mukmin itu terbagi menjadi dua bagian yaitu orang awam dan orang khusus. Yang termasuk orang awam adalah mereka yang terkadang meninggalkan hal yang wajib dan mengerjakan yang haram. Dan juga mereka tidak menjaga amalan sunnah serta terkadang berlebihan dalam melaksanakan yang mubah. Hal terbaik yang harus mereka lakukan adalah meminta ampun kepada Allah SWT. Adapun orang khusus adalah mereka yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang haram setiap saat. Dan mereka juga menjaga amalan sunnah dan menyedikitkan amalan mubah yang hanya mereka lakukan dalam rangka untuk mendukung menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.