PENGAJIAN KITAB RISALATUL MUAWWANAH

PENGAJIAN KITAB RISALATUL MUAWWANAH

Pengajian Kitab Risalatul Muawwanah

Oleh: Ustadz Agus Zainal Arifin

Hendaklah kita apabila berbicara selalu berisikan tentang kalimat yang baik karena sesungguhnya sebuah kalimat yang haram untuk di ucapkan maka haram juga untuk didengarkan. Contohnya saja ketika kita berbohong itu haram maka haram juga bagi kita untuk mendengarkannya kecuali kita tidak sengaja mendengarnya maka hal tersebut tidak apa-apa. Dan kalau berbicara juga sebaiknya  berbicara dengan teratur(tartil) serta menjaga nada bicara(intonasi) karena banyak orang yang akan menjadi tidak paham ketika kita berbicara dengan tidak tartil dan tanpa mngatur nada bicara kita. Contohnya saja di Jepang, di sana banyak kata yang sama dalam hal pengucapannya namun berbeda artinya tergantung nada bicara kita saat mengucapkannya. Mengatur urutan kalimat yang kita ucapkan itu juga penting agar orang yang mendengarnya jelas. Memperhatikan ucapan orang yang berbicara juga termasuk hal yang penting meskipun apa yang di bicarakannya adalah hal yang tidak ingin kita dengar. Karena dengan menampakkan bahwa kita tidak mendengarkannya maka akan membuat orang yang berbicara itu sakit hati maka dari itu kita wajib mendengarkannya meskipun yang di bicarakannya itu kosong. Dan jangan memutus pembicaraannya walaupun kita mengetahui apa yang akan di sampaikannya. Namun kalau tidak sampai menyakitkan matinya maka itu tidak apa-apa. Karena terkadang banyak orang yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin dibicarakannya. Dalam hal ini kita boleh membantunya untuk menjelaskan apa yang diucapkannya yang berarti kita tidak termasuk dalam memutuskan pembicaraannya.  Dan kalau ada yang bertanya maka jawablah pertanyaan tersebut meskipun hal yang ditanyakan tersebut sudah pernah ditanyakan. Kecuali kalau itu pembicaraan yang berbahaya (yang dimurkai oleh Allah), salah satu cata memotong pembicaraan yang berbahaya tersebut adalah dengan mengallihkan pembicaraan agar yang kita potong pembicaraannya tidak merasa sakit hati. Dan juga berhati-hatilah jangan sampai masuk dalam pembicaraan orang lain(nimbrung) karena biasanya hal tersebut akan mengganggu orang yang sedang berbicara. Dan jangan kau nampakkan pada orang yang berbicara bahwa sesungguhnya apa yang dia bicarakan itu sudah kamu ketahui, namun tidak perlu sampai berbohong dan cukup dengan menghormatinya saja agar timbul rasa gembira di hatinya. Karena kalau yang demikian akan menyakiti hatinya dan kalau ada orang yang berbicara dengan pembicaraan yang tidak seperti itu ceritanya maka jangan memotongnya dengan berkata bukan seperti itu. Karena kita tidak boleh menyakiti hatinya meskipun dia salah, maka katakanlah bahwa seperti ini ceritanya. Terutama kalau hal yang dibicarakan itu berhubungan tentang hal agama maka kita harus membenarkannya dengan cara yang lembut. Dan kalau kau bicara dengan orang yang bodoh dalam artian orang yang tidak mau berfikir maka baik-baiklah supaya tidak sampai ada permusuhan dan tidak ada yang sakit hati.

Dan hati-hati jangan sampai kita melakukan hal yang tidak bermanfaat untuk kita dan juga janganlah sering sering bersumpah. Kalau terpaksa bersumpah maka hal yang disumpahkan itu adalah benar benar batul dan juga karena memang diperlukan contohnya saja ketika menjadi saksi. maka selain itu alangkah lebih baik kalau kita tidak bersumpah. Dan juga janganlah berbicara sesuatu yang bohong karena hal tresebut dapat membatalkan keimanan. Ketika kita melakukan suatu kebohongan akan membawa kita kepada sesuatu kebohongan yang lain.

0 comments , , tags: