Berazam dengan Niat Baik

29/02/2016 in , by

Berazam dengan Niat Baik

Salah kaprah, itulah kira-kira bahasa yang tepat diutarakan ketika menemukan pemahaman antara niat dan azam disamakan. Padahal dalam bahasa Arab antara niat dan azam memiliki makna yang berbeda. Dalam artian kebahasaan (etimologi), niat diartikan bermaksud sedangkan azam diartikan rencana.

Adapun dalam artian istilah (terminologi), niat adalah maksud hati yang diiringi dengan perbuatan (prilaku). Sebagai contoh. Seseorang akan bermaksud ke masjid, ketika hatinya berkata mau pergi ke masjid, ketika itu juga kakinya melangkah menuju masjid. Dengan demikian dapat dipahami jika ada seseorang yang bermaksud berangkat ke masjid, tetapi hanya berdiam diri, kakinya tidak bergerak atau melangkah sedikit pun, maka dapat dikatakan “hal tersebut bukanlah niat”, karena antara maksud hati dan prilaku tidak berbarengan. Anehnya hal ini banyak diartikan (definisikan) niat oleh kebanyakan orang.

Konteksnya dengan ibadah, shalat misalnya, ada orang yang mengatakan shalat cukup dengan niat, padahal niat shalat harus berbarengan dilakukan dengan perbuatan shalat karena itu merupakan kriteria niat. Maka jika ada orang berkata, “saya mau shalat”, namun orang tersebut masih sibuk dengan pekerjaannya atau menunda-nunda shalat tersebut, maka hal ini tidak dapat dikatakan niat, tetapi hanya tataran rencana.

Setelah uraian tentang niat dijelaskan diatas, lalu apa sebenarnya definisi azam, dan di mana sisi persamaannya dan perbedaan ? Dari uraian diatas sebenarnya tampa sadar sudah dapat dipahami perbedaan niat dan azam, karena segala permaksudan hati yang tidak termasuk pada kriteria niat masuklah pada kriteri azam. Azam dengan niat perbedaannya memang tipis, karena perbedaanya hanya terletak pada prilaku (pelaksanaannya). Jika niat harus berbarengan antara maksud hati dan pelaksanaan, sementara azam hanyalah maksud hati namun tidak berbarengan dengan pelaksanaan.

Dalam kitab Risalatul Mu’awanah dijelaskan lebih detail tentang azam. Terdapat 3 macam azam, yaitu sebagai berikut :

  1. Berazam lalu berbuat, baik hal yang mampu ataupun belum mampu dilaksanakan.
  2. Berazam namun tidak berbuat padahal mampu untuk melaksanakan.
  3. Berazam namun tidak berbuat karena tidak mampu untuk melaksanakan.

Terdapat sebuah hadits yang menceritakan bahwa, “Allah SWT. mencatat segala perbuatan baik maupun buruk”. Kemudian dijelaskan bahwa :

  • Seseorang yang hanya bermaksud baik, maka Allah mencatatnya sebagai 1 perbuatan baik yang sempurna,
  • Jika seseorang bermaksud baik dan melaksanakannya, maka Allah mencatatnya dengan 10 hingga 700 kali lipat,
  • Jika seseorang bermaksud buruk namun tidak melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai 1 perbuatan baik yang sempurna, dan
  • Jika seseorang bermaksud buruk dan melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai 1 perbuatan buruk.

0 comments , tags: